Tazkirah

HTML Tag Reference

Showing posts with label Kisah Terbaik. Show all posts
Showing posts with label Kisah Terbaik. Show all posts

Friday, February 6, 2009

Adil Tidak Selalu Bijaksana

Alkisah, Raja Salomo dihadapkan pada suatu perkara yang rumit. Seorang bayi sedang diperebutkan dua orang ibu. Mereka masing-masing mengaku sebagai ibu kandung bayi tersebut dan oleh karena itu berhak atasnya. Hakim-hakim seluruh negeri sudah angkat tangan dan kehilangan pegangan dalam memberikan keputusan. Maklum saja, saat itu belum ada teknologi uji DNA.

Raja bersungut-sungut, tapi tetap saja ia berpikir. Sejenak kemudian, tiba-tiba raja menghunus pedangnya dan berseru, "Kalau begitu mari kita bikin keputusan yang adil! Aku akan membelah bayi ini menjadi dua bagian yang sama, sehingga kalian masing-masing akan mempunyai separuhnya!"

Ibu gadungan bersorak kegirangan, "Hidup Raja Salomo yang adil!" Sedangkan ibu kandung sang bayi itu memucat wajahnya, lalu buru-buru bersimpuh di kaki Sang Raja dan memohon dengan pilu. "Ampun Tuanku Baginda Raja, hamba ikhlaskan putra hamba diserahkan kepada ibu itu seutuhnya. Janganlah Tuanku memainkan pedang ...."

Raja Salomo terharu, dan tiba-tiba saja tertawa, "Ha ... ha ... ha ..., aku sudah mendapatkan keputusan." Kedua ibu itu terbengong- bengong dan harap-harap cemas. "Aku tetapkan, kaulah wanita mulia, ibu kandung bayi ini!" Raja Salomo menyerahkan sang bayi kepada ibu yang berlutut di hadapannya. Legalah sang ibu kandung itu.

Kisah inilah yang antara lain membuat Raja Salomo disebut sebagai raja yang bijaksana. Dari kisah itu pula kita bisa mengambil hikmah bahasa yang unik: makna kata `adil` sangat berbeda dengan makna kata `bijaksana` (apabila tidak dapat dikatakan bertolak belakang). Kita bisa menguji kedua kata itu dengan contoh kasus lain. Kita memiliki kain selebar 10 m2 dan ingin membaginya menjadi dua bagian. Dikatakan adil jika masing-masing pihak memperoleh kain selebar 5 m2. Hanya saja, jika dua orang itu berbeda fisiknya (katakanlah yang satu gemuk sehingga 5 m2 tadi kurang untuk membuat sebuah baju, sementara yang satunya kurus sehingga kain tadi bersisa percuma) apakah tindakan membagi dua sama besar itu adil?

Jelaslah bahwa keputusan yang adil itu tidaklah selalu bijaksana. Dalam hal pembagian kain di atas, biarlah kita tidak berbuat adil asal bijaksana. Seyogyanya kain tadi dibagi menjadi dua bagian dengan 6 m2 untuk si gemuk dan 4 m2 untuk si kurus. Dengan begitu keduanya bisa memperoleh baju tanpa ada kain yang terbuang percuma. Lucunya, kita sering menggabungkan kata adil dan bijaksana tadi. Padahal sesungguhnya hal itu tidak akurat dan tak serasi. Kalau adil, bilang saja adil, artinya sama rasa sama rata. Soalnya, bijaksana belum tentu adil. Bahkan belakangan ini, apa-apa yang digolongkan bijaksana ternyata lebih sering berpretensi negatif. Tidak percaya? Kalau ada orang yang mendatangi Anda dan berkata, "Minta kebijaksanaan dong Pak/Bu, supaya ada uang kebijaksanaan gitu ...?" Positifkah niatnya?
Bahan dikutip dari sumber:
Judul Majalah : Intisari Edisi April 2004
Judul Artikel : Adil Tidak Selalu Bijaksana
Penulis : Lie Charlie
Halaman : 152 - 153

Buah Adil

Di antara buah adil dalam keputusan hukum ialah tersebarnya ketentraman di hati.

Dikisahkan bahwa Kaisar Romawi mengirim utusan kepada Umar bin Khaththab r.a untuk melihat dari dekat kondisinya dan kegiatan-kegiatannya.

Ketika utusan Romawi tersebut telah tiba di Madinah, ia bertanya tentang Umar bin Khathab kepada penduduk Madinah. “Mana raja kalian?”
Penduduk Madinah menjawab: “Kami tidak mempunyai raja, kami hanya mempunyai pemimpin yang sedang pergi ke luar Madinah”.
Utusan Kaisar Romawi tersebut segera keluar dari Madinah untuk mencari Umar bin Khaththab, dan ia bertemu dengan Umar yang sedang tidur di atas tanah dengan berbantalkan tongkat kecilnya yang biasa ia bawa untuk mengubah kemungkaran.

Ketika utusan Kaisar Romawi melihat Umar bin Khaththab dalam keadaan seperti itu, ia merasakan ketenangan di hatinya, dan ia berkata: “Orang yang ditakuti semua raja karena kewibaannya, tetapi keadaainya sepert itu? Hai Umar, engkau berbuat adil dan engkau pun bisa tidur. Sadangkan raja kami zalim, maka tidak heran kalau ia tidak bisa tidur, dan selalu diliputi ketakutan” (Abu Bakar Jabr al-Jazairi, Ensiklopedi Muslim, hl.236).

Pemimpin yang adil selalu bersikap dalam pemberian keputusan dengan jalan tengah, yakni tidak berlebih-lebihan dan tidak pula sembrono. Oleh sebab itu, orang muslim harus adil dalam ucapan dan perbuatannya. la berbuat adil dalatn segala hal hingga menjadi akhlak yang tidak terpisahkan darinya.

Hasilnya, keluarlah darinya ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang adil dan jauh dari kezaliman. la sanggup mengendalikan hawa nafsu, tidak condong kepada syahwat dant tidak cinta dunia.

Saturday, December 20, 2008

KISAH SEBUTIR KURMA



Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke Mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1kg kurma dari pedagang tua di dekat Mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu sebagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya.

Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. Empat Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. ? Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. ? Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya, "Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT," kata malaikat yang satu.

"Tetapi sekarang tidak lagi. Doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,"
jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. "Astaghfirullahal adzhim" Ibrahim
beristighfar. ? Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda , "4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. Kemana ia sekarang?" tanya Ibrahim.

"Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma" jawab anak muda itu.

"Innalillahi wa innailaihi roji'un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?" Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat..

"Nah, begitulah" kata Ibrahim setelah bercerita, "Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?"

"Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan Saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. ? Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya."

"Dimana alamat saudara-saudaramu? Biar saya temui mereka satu persatu." Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalalkan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim. 4 bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada dibawah kubah Sakhra.
Tiba-tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap.

"Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain."

"O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat halalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas."

Apabila anda mempunyai teman atau saudara yang anda sayangi forward-lah e-mail ini.
Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? Lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu... "

Wallahualam..